GREEN BOOK
|||

Bagi anda yang mengikuti Awards Season tahun ini, pasti tak asing lagi dengan nama "Green Book" . Ya, Green Book, sang pemenang Golden Globes, dan Producers Guild Award 2019 serta frontrunner (yang digadang-gadang) dalam persaingan Best Picture Oscars 2019 bersama Roma besutan Alfonso Cuaron

Film ini sendiri disutradarai oleh Peter Farrely, kerjanya dalam film ini patut diacungi jempol, ia juga diganjar nominasi Sutradara Terbaik dalam Directors Guild Award 2019 . Tentu yang menjadi penyokong utama film ini adalah akting kedua tokoh utamanya, Viggo Mortensen sebagai Tony "Lip", seorang pekerja serabutan yang pada awalnya skeptis terhadap orang kulit hitam dan Mahershala Ali sebagai Dr. Donald "Don" Shirley, seorang pianis kulit hitam yang akan melakukan tur ke Selatan Amerika . Akting kedua aktor sangatlah mengesankan, bahkan mungkin saja Mahershala Ali akan menerima Oscar lagi setelah memenanginya di tahun 2017 untuk aktingnya di film Moonlight (2016) . Mahershala Ali sendiri telah memenangi penghargaan aktor pendukung terbaik hampir di seluruh penghargaan bergengsi tahun ini, seperti Golden Globes, BAFTA, SAG, dan CCA , mungkin saja Oscar tinggal menunggu waktu .

Oh iya, film ini sendiri berlatar di tahun 80-an, dimana rasisme masih menjadi problematika besar di Amerika khususnya antara kaum kulit putih dan kulit hitam . Kisah "roadtrip buddy" dalam film ini tergambar dengan sangat apik dan menakjubkan . Harus diakui, skenario juga merupakan tulang punggung film ini, skenario yang brilian ini juga ditulis oleh Nick Vallelonga, anak dari tokoh utama film ini yang diperankan oleh Viggo Mortensen yaitu Tony "Lip" Vallelonga . Kisah persahabatan dan interaksi antara kedua tokoh terasa sangat asli dan tidak kaku . Film ini juga mampu menyajikan komedi yang solid tanpa harus meninggalkan drama dan pesan-pesan di dalamnya . Interaksi bagaimana Don terus-terusan mengajari Tony untuk mengubah sudut pandang dan kelakuannya menjadi komedi yang apik namun juga memiliki makna yang kuat .

Film ini tidak hanya kuat dari aspek akting dan skenarionya saja, film ini juga sukses dari segi teknikal nya . Jika biasanya film-film kesayangan kritikus seperti Green Book hanya populer untuk skenario, akting, dan aspek artistik saja, film ini cukup berhasil di aspek lain seperti Editing . Selain itu, film Oscar-bait yang biasanya berat, mendalam dan dinilai membosankan oleh khalayak awam, sama sekali tidak dicerminkan oleh Green Book . Film ini sangat ringan tanpa meninggalkan keindahan dan kedalaman ceritanya sendiri, sebuah film yang dapat dinikmati oleh kritikus dan penonton umum .

Babak akhir film ini merupakan penantian berbuah indah . Setelah dihibur dengan babak awal , dan pertengahan, babak akhir ini bahkan melampaui ekspektasi . Filmnya membanting setir ke jurang pesan moral yang dalam dan menyajikan tontonan yang tiada duanya, sungguh merupakan ending-sequence yang sangat powerful . Film pun ditutup dengan hangat, seluruh pesan dan adegan dari awal hingga akhir rasanya terhubung dan saling bahu membahu menyusun sebuah mahakarya, yaitu film Green Book itu sendiri .

Rasanya nyaris tak ada kekurangan yang mampu didapati dari film ini sendiri, jika ada itupun lebih tepat disebut perbedaan preferensi yakni mengenai pengembangan watak dari sang tokoh utama yang dirasa agak terlalu cepat berbelok hanya karena pekerjaan . Namun, selain itu film ini nyaris sempurna . Emosi yang tersaji sangat menyentuh perasaan dan mengilhami pikiran, kisah pertemanan yang sangat indah dicerminkan dengan sempurna oleh film ini . Selain itu visual yang disajikan juga tak kalah apik, kita sungguh dibawa menjelajah Amerika bagian Selatan dan diajak mengenali hidup di Amerika pada tahun 80an, bagaimana rasisnya hukum saat itu . Ngomong-ngomong, judul film ini sendiri diambil dari nama buku yang menjadi panduan khusus bagi orang-orang kulit hitam yang ingin berpergian di Amerika kala itu berjudul "The Negro Motorist Green Book"

Berbicara tentang kesempatan Oscar-nya, film ini nyaris pasti menyabet penghargaan aktor pendukung terbaik untuk Mahershala Ali, bersaing ketat dengan The Favourite dan Roma di kategori Skenario Orisinil dan bersaing terkhususnya dengan Roma untuk Best Picture dan nominasi lainnya yakni Black Panther, The Favourite, BlacKkKlansman, A Star Is Born, Vice, dan Bohemian Rhapsody . Penasaran ? Kita tunggu saja Malam Senin nanti, 24 Februari 2019 . Bagi yang penasaran, film ini sudah tayang di Indonesia di jaringan CGV dan Cinemaxx sejak 31 Januari yang lalu, jika ingin menontonnya, anda harus bergegas ! Karena film macam ini biasanya tidak mampu bertahan lama di pasar film Indonesia

Green Book (2018)
⭐⭐⭐⭐⭐ (10/10)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini